Dosen FIK Universitas Narotama 'Raih Prestasi Nasional di Ajang Budaya Go Kementerian Kebudayaan'
07 Januari 2026, 09:33:31 Dilihat: 375x
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh akademisi di bidang teknologi dan kebudayaan. Maulana Rizqi, S.T., M.T., M.Sc, Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Narotama, berhasil lolos sebagai finalis sekaligus juara bersama kategori profesional dalam ajang Budaya Go yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Tim terdiri dari lima orang, yakni Maulana Rizqi bersama tiga alumni FIK (satu dari Sistem Informasi dan dua dari Sistem Komputer), dan satu orang budayawan.
“Sebenarnya saya ingin mengajak mahasiswa, tapi karena ada batasan usia minimal 22 tahun untuk kategori profesional, akhirnya kami menggandeng alumni,” jelasnya.
Maulana menjelaskan bahwa kompetisi Budaya Go telah dimulai sejak November 2025 dan diikuti oleh lebih dari 600 peserta dari seluruh Indonesia. Kompetisi ini dapat diakses melalui laman resmi budayago.id, dengan fokus pada: Pengembangan Aplikasi, Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Game yang mengangkat tema kebudayaan Indonesia.
“Dari sekitar 600 peserta, diseleksi menjadi 200 peserta di pertengahan November, kemudian mengerucut menjadi 100 peserta di akhir November, hingga akhirnya hanya tersisa 20 finalis nasional,” ungkapnya.
Dalam kompetisi tersebut, Maulana bersama tim mengusung sebuah game petualangan bertema Nusantara berjudul Jagad Odyssey. Game ini mengangkat 10 Objek Pengembangan Pelestarian Kebudayaan (OPK) yang meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat dan olahraga tradisional.
Game Jagad Odyssey mengisahkan seorang tokoh bernama Tole, pemuda berusia sekitar 17–19 tahun yang memiliki jiwa petualang. Ia bertekad membalas dendam atas kematian keluarganya yang dibunuh oleh makhluk jahat bernama Buto, kaki tangan Dewa Asura yang menyebarkan energi keburukan dan kehancuran desa-desa.
“Untuk mengalahkan Buto, Tole harus mempelajari pencak silat, melakukan semedi, mencari keris, serta menjalankan berbagai nilai kebudayaan Nusantara. Jadi unsur budaya tidak hanya jadi latar, tapi menjadi inti dari permainan,” jelas Maulana.
Menurutnya, ide pengembangan game ini terinspirasi dari minimnya game bertema kearifan lokal Indonesia, terutama untuk genre petualangan. Selama ini, game yang mengangkat budaya lokal cenderung terbatas pada tema horor.
“Padahal Indonesia punya kekayaan budaya yang luar biasa. Lewat game ini kami ingin mengenalkan kembali budaya kepada Generasi Z, termasuk bahasa dan logat daerah. Voice over kami menggunakan logat Surabaya, serta mengenalkan rumah tradisional, teknik anyaman, hingga adat tempo dulu,” tambahnya.
Ia berharap, ke depan generasi muda tidak hanya mengagumi budaya luar seperti K-pop atau Jepang, tetapi juga bangga dengan karakter dan budaya Indonesia yang tak kalah menarik untuk dijadikan cosplay maupun konten kreatif lainnya.
Babak final Budaya Go digelar pada 4–8 Desember 2025 di Pos Bloc Jakarta. Seluruh kebutuhan peserta final, mulai dari transportasi hingga akomodasi, difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan.
Pada tahap ini, para finalis mempresentasikan karya mereka sekaligus mengikuti pameran.
“Pengunjung cukup ramai dan booth kami juga mendapat respons paling positif, baik dari pengunjung maupun peserta lain. Banyak yang bilang, ‘ternyata Indonesia bisa,’ tutur Maulana.
Para finalis mendapatkan berbagai manfaat, mulai dari honor, sertifikat, pengalaman nasional, hingga peluang kerja sama berkelanjutan. Bahkan, Wakil Menteri Kebudayaan menyampaikan komitmen untuk membina dan memasukkan kegiatan seperti BudayaGo ke dalam agenda pemerintah daerah.
“Insya Allah tahun 2026 akan ada kerja sama lanjutan. Aplikasi dan game berbasis kebudayaan ini punya potensi besar untuk dikembangkan,” katanya.
Sebagai penutup, Maulana menyampaikan harapannya agar ke depan ajang ini dapat dipersiapkan lebih matang, serta melibatkan kolaborasi yang lebih luas.
“Harapannya tahun berikutnya bisa berkolaborasi dengan dosen lain dan mahasiswa, sehingga pengembangan aplikasi dan game kebudayaan ini bisa meningkat dari sisi skala dan kualitas,” pungkasnya.